Rabu, 18 Juni 2014

Cium Pipi Tak Disambut Prabowo, Jokowi Tersinggung

TEMPO.COJakarta - Calon presiden dari poros koalisi PDI Perjuangan, Joko Widodo, mengaku tersinggung ketika Prabowo Subianto tidak melayani cium pipi sebelum debat capres kedua yang berlangsung Ahad, 15 Juni 2014. Dalam rekaman video, Prabowo terlihat tidak meladeni tawaran cium pipi dari Jokowi.

"Kalau kamu tersinggung atau tidak digituin? Kalau kamu punya perasan pasti tersingggung dan saya kan punya perasaan," katanya di sela-sela kampanye di Subang, Selasa, 17 Juni 2014.

Jokowi mengatakan kejadian tersebut terjadi di sebuah ruangan sebelum keduanya masuk ke arena debat. Menurut Jokowi, dia hanya menawarkan cium pipi yang kemudian ditolak. Setelah itu, tidak ada interaksi apa pun antara Jokowi dan Prabowo. "Jadi kalau cipika-cipiki saja tidak. Kenapanya ya tanya sana dong, masak tanya saya. Tidak ngobrol sama sekali," katanya.

Sebelumnya, stasiun televisi Metro TV menayangkan adegan Prabowo yang masuk ke dalam ruangan sebelum debat calon presiden di Hotel Gran Melia berlangsung Ahad lalu. Joko Widodo yang sudah ada dalam ruangan ini kemudian menyambut Prabowo dan berjabat tangan sambil menunduk dan mencium pipi Prabowo. Namun Prabowo tampak langsung berjalan dan meninggalkan Jokowi. Tayangan ini kemudian ramai di Youtube.

Selasa, 17 Juni 2014

fitnah OBOR RAKYAT ttg JOKOWI


Kabar24.com, JAKARTA— Kapolri Jenderal Pol Sutarman menyatakan tak ada kendala dalam pengusutan kasus Tabloid Obor Rakyat yang diadukan ke Markas Besar Polri oleh tim sukses capres Jokowi-JK. SIMAK: JOKOWI: Obor Rakyat Pojokkan Saya

"Tidak ada kendala. Siapa pun harus sama di depan hukum," kata Kapolri kepada wartawan di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Selasa (17/6/2014).

Sebelumnya, pemimpin redaksi Tabloid Obor Rakyat Setiyardi Budiono mengaku bekerja sebagai salah satu asisten Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah dan Komisaris di perusahaan BUMN, PTPN VIII.
Setiyardi dalam diskusi Sindo Trijaya di Cikini, Jakarta, Sabtu (14/6/2014), mengaku penerbitan Tabloid Obor Rakyat sama sekali tidak terkait institusi tempatnya bekerja.

Tim sukses Jokowi-Hatta menyebut Tabloid Obor Rakyat  menyebarkan fitnah dan kebencian.
"Kami akan dalami pasal mana yang bisa dipakai," ucap Kapolri Sutarman.
Kapolri juga mengingatkan bahwa setiap kasus hukum harus berdasarkan alat bukti dan keterangan dari para saksi, termasuk pelapor dan pihak lainnya yang mengetahui serta terkait kasus tersebut. (Antara)

Konsep "Tol Laut" Jokowi dapat banyak sambutan positif

 Merdeka.com Salah satu hal yang menarik dalam debat calon presiden 2014 yang berlangsung pada hari Minggu lalu adalah gagasan Joko Widodo yang dia sebut sebagai "tol laut".
Kompas.com 15 Juni 2014 menulis pernyataan Joko WIdodo ketika menjawab pertanyaan Prabowo Subianto tentang pembangunan infrastruktur apa yang akan dia lakukan. Jokowi menjawab bahwa salah satu yang akan dibangun olehnya adalah "tol laut" dari Sumatera hingga ujung Papua.
"Infrastruktur tol laut penting sekali, sehingga ada dari Sumatera hingga ujung Papua. Kenapa harus ada? Saya contohkan, semen di Jawa harganya Rp 50-60 ribu. Tapi, di Papua bisa Rp 1 juta bahkan Rp 1,2 juta atau Rp 1,5 juta. Kalau "tol laut" dibangun, (deep sea port) di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, akan memberikan rasa keadilan," kata Jokowi, dalam debat kedua capres, Minggu malam, di Gran Melia, Jakarta Selatan.
Dalam keterangan yang disampaikan kepada liputan6.com, Jokowi memaparkan dua program utamanya dalam infrastruktur yakni tol laut dan kereta jalur ganda. "Infrastruktur di negara ini paling penting ke depan adalah tol laut. Tol laut ini artinya kapal dari barat sampai ke timur selalu bolak-balik," ujar Jokowi seperti tertulis dalam siaran pers, Senin 16 Juni 2014.

Program "tol laut" yang memang belum lazim dalam diskursus tentang pengembangan pelayaran di Indonesia mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan. Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Sulistyaningsih yang diwawancarai oleh tempo.co 16 Juni 2014 menyatakan setuju dengan proyek "tol laut" yang digagas oleh calon presiden Joko Widodo tetapi dengan catatan bahwa pemerintah harus memberikan subsidi untuk operasional kapal-kapal yang melintas.
"Kapal harus tetap jalan sesuai jadwal walaupun kapasitas barang yang diangkut belum penuh atau bahkan kosong. Nah, ini biayanya kan sangat besar. Jadi, harus ada subsidi pemerintah," kata Lana.

Dia menjelaskan saat ini banyak kapal-kapal yang tidak berlayar ke daerah tujuan karena menunggu kapasitas barang yang diangkutnya penuh. Akibatnya, distribusi barang menjadi terlambat ke daerah-daerah dan harga barang menjadi semakin mahal.

Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun menyebut gagasan Joko Widodo adalah gagasan yang harus diawasi bersama. Seperti ditulis dalam berita antaranews.com 16 Juni 2014, Alex mengatakan bahwa mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim itu tergantung kemauan politik pemimpinnya. 
"Kalau ada pemimpin yang menyebut akan membangkitkan lagi kemaritiman Indonesia maka kita semua harus sama-sama mengawasinya karena itu janji dia, kalau tidak, dia berkhianat," kata Retraubun.

Alex berbicara di hadapan ratusan anggota Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), di Hotel Holiday Inn Kemayoran, Jakarta Utara.

Dengan membangun "tol laut", Retraubun percaya niscaya akan perubahan secara sistematis ke arah yang lebih baik di berbagai bidang di Indonesia akan terjadi.